TETAP SEMANGAT DALAM MENJALANI HARI-HARIMU

Senin, 19 Desember 2011

LEADERSHIP


KEPEMIMPINAN selalu menjadi isu sentral di mana pun baik di organisasi, bisnis maupun perusahaan. Harga kepemimpinan menjadi sangat mahal untuk mengubah satu kondisi menuju kondisi yang jauh lebih baik. Tapi dalam kenyataannya, tidak semua pemimpin dapat mengemban misi kepemimpinannya. Malahan yang muncul adalah tirani baru yang mencengkeram anak buahnya dan memaksakan segala kehendaknya tanpa acuan prinsip yang jelas. Tidak heran apabila yang muncul adalah kefrustrasian karyawan menghadapi ulah para pemimpin yang semau gue, tidak mau tahu dengan urusan karyawan dan lebih parah lagi kesannya hanya memeras keringat karyawan tanpa mau memperhatikan nasibnya.

Sejarah telah mencatat bahwa pemimpin-pemimpin besar bukanlah mereka yang duduk santai di belakang meja, angkat jari tinggi-tinggi, tunjuk sana tunjuk sini dan melampiaskan kemarahan apabila hal yang terjadi di luar harapannya. Nabi Muhammad yang disebut sebagai pemimpin luar biasa, dia adalah orang yang rendah hati, memiliki moral yang tinggi, selalu santun kepada kawan maupun lawan, selalu belajar dan selalu mengevaluasi diri. Tapi bila melihat kemunkaran, kelalaian dan sesuatu yang ganjil, dia akan tegas untuk menegur bahkan sampai menghukum. Tapi bentuk ketegasannya tidak dalam kemarahan, tidak dengan mencak-mencak. Ia tetap tegas tetapi dibalut dengan kelembutan. Bukankah tali yang kuat adalah tali yang lentur, bukan tali yang kaku?

Pemimpin-pemimpin besar lainnya juga memiliki watak yang sama, tapi bila disederhanakan beberapa ciri pemimpin besar adalah; memiliki kecerdasan emosi, memiliki integritas, selalu belajar menambah ilmu pengetahuan, memiliki pola komunikasi interpersonal yang luwes, rendah hati, memiliki visi jauh ke depan, memiliki prinsip yang kuat dan teguh, mampu mempengaruhi pikiran orang lain, menerima kritikan dan masukan dari siapapun, selalu positif thinking, tidak pernah menyalahkan orang lain, selalu mendidik anak buahnya agar tumbuh menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari.

Kecerdasan Emosi
Apa itu kecerdasan emosi? Apakah dalam dunia kerja emosi perlu dibawa? Dari jaman dulu sampai sekarang faktor emosi menjadi bagian dari manusia sangat besar yang dapat menentukan ke mana arah langkah seseorang. IQ memang diperlukan, tapi IQ bukan satu-satunya perkara yang bisa menjamin kesuksesan. Contoh sederhana, seseorang yang memiliki IQ tinggi dengan indikator nilai Matematika tinggi, 9 misalnya, nilai statistik tinggi, Bahasa Inggris tinggi, IPK 3,5. Setelah terjun ke dunia kerja apakah nilai yang tinggi tersebut bisa dijadikan modal satu-satunya untuk meningkatkan prestasi perusahaan? Pengalaman membuktikan, mahasiwa yang memiliki nilai tinggi tanpa dibekali dengan kadar emosi yang cukup, mereka gagal dalam dunia kerja. Apakah mereka berantem terus dengan bosnya, pindah-pindah kerja dari satu tempat ke tempat yang lain karena tidak cocok dengan teman-temannya dan hal-hal lain yang memungkinkan orang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru karena merasa dirinya jauh lebih pintar dari yang lain.

Sementara di sisi lain, mereka yang memiliki IPK sedang-sedang saja, tapi luwes dalam bergaul, memahami kebutuhan orang lain, memberikan perhatian kepada teman-temannya yang sedang ada masalah, mereka jauh lebih sukses dan berhasil baik dalam karier maupun dalam mentalnya. Ini perbedaan IQ dengan EQ dapat dilihat secara mencolok dari hasil kerja pikiran mereka. Demikian halnya dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menggunakan pendekatan kecerdasan emosi (EQ) akan menghasilkan kinerja jauh lebih baik ketimbang pemimpin yang hanya menggunakan pendekatan IQ. Coba bedakan, pemimpin yang menggunakan kecerdasan emosi, pola pikirnya dimulai dari melihat karyawan sebagai asset dan bagian yang penting untuk masa depan perusahaan. Apabila karyawan bebas dari masalah, selalu termotivasi, diperhatikan kebutuhan dasarnya, maka mereka dengan sendirinya akan maksimal dalam bekerja.

Keuntungan atau laba pada dasarnya hanya merupakan akibat dari karyawan yang memiliki semangat tinggi, tidak ada masalah pribadi dibawa ke kantor dan mereka terus belajar untuk melihat peluang pasar di depan matanya. Jadi, kalau mau untung, kalau mau sukses, peliharalah orang-orang di dalam terlebih dahulu. Mulai dari mutu customer servis agar pelanggan puas, memelihara kualitas produk, membina pelanggan dengan pendekatan tertentu sehingga mereka merasa dekat dengan perusahaan kita. Di sini ada beberapa hal yang harus terus menerus diperhatikan mulai dari kondisi karyawan, kualitas produk, memelihara pelanggan dan melakukan komunikasi yang kondusif dengan pelanggan. Satu hal lagi ketika bisnis sudah mulai sangat kompetitif, harus selalu kreatif menciptakan produk baru agar pelanggan tetap mencari produk kita.

Sejauhmana perusahaan memperhatikan karyawan? Lebih spesifik lagi, sejauhmana pemimpin memperlakukan karyawan? Karyawan juga manusia memiliki masalah, keluh kesah dan persoalan hidup sehari-hari. Ketika pemimpin tidak mau tahu terhadap persoalan karyawannya, jangan menyesal kalau terjadi turn over yang cukup tinggi di perusahaan tersebut. Pemimpin harus mampu menempatkan diri sesuai dengan situasi yang tepat. Kadang bersikap sebagai seorang manager, kadang bersikap sebagai seorang bapak kepada anaknya, kadang bersikap sebagai teman atau sahabat, kadang bersikap sebagai konsultan, kadang bersikap sebagai juru therapis yang mengobati pasiennya. Pemimpin tidak bisa bersikap seperti raja yang duduk manis didampingi dayang-dayang yang selalu mengipas-ngipas dirinya, tidak pernah turun ke lapangan, dan titahnya harus dituruti, peduli apakah titahnya itu logis atau tidak, penting atau tidak. “Saya kan raja, jadi anda harus nurut.” Kepemimpinan model ini sama sekali tidak akan laku di pasaran. Mungkin anak buah menuruti perintahanya, tapi landasannya karena takut dan terpaksa, bukan karena senang melakukannya. Dan sebentar lagi mereka akan keluar dari perusahaan tersebut.

Pemimpin harus mampu mengelola emosi karyawannya. Satu waktu berikan pujian kalau karyawan melakukan berprestasi. Jangan sungkan-sungkan untuk mengatakan “Bagus, anda melakukan tugas secara baik, lanjutkan di masa-masa mendatang.” Jangan sampai terjadi, ketika salah didamprat habis-habisan sampai semaput, ketika berprestasi malahan tidak disapa sedikit pun. Ini kan tidak fair memperhatikan anak buah atau karyawan hanya ketika mereka melakukan kesalahan saja. Kalau karyawan melakukan kesalahan, jangan ditegur di tengah-tengah forum yang dilihat banyak orang. Tarik ke dalam, bicara empat mata, kalaupun mau mengkritik habis, marah atau apapun, lakukan di sana. Sehingga harga dirinya tetap terjaga. Kalau ditegur dan dimarahi di tengah-tengah karyawan lain, siapapun akan menanggung rasa malu yang sangat besar, sementara mungkin tingkat kesalahannya tidak seimbang dengan tingkat kemarahannya.

Memimpin manusia memang memiliki keunikan-keunikan tersendiri. Terlalu keras dalam memperlakukan karyawan, mereka tidak bisa menerima, terlalu lembut dalam pengertian tidak tegas pun akan tidak berwibawa dan tidak dihargai. Namun selama ini pendekatan kepemimpinan melalui pendekatan emosi jauh lebih efektif karena kita melihat orang dari kacamata yang holistik. Ini memang ujian kepemimpinan, banyak orang yang pandai dan berpengalaman di mana-mana, tapi ternyata gagal dalam memimpin manusia di bawah naungannya sendiri atau karyawannya sendiri. Sampai di sini apakah kita masih bersikeras untuk memperlakukan karyawan, anak buah atau staf organisasi dengan cara-cara yang kaku, hitam putih? Atau kita berpikir ulang untuk bersikap jauh lebih luwes dalam memperlakukan karyawan.

Ken Blanchard dalam Self Leadership membagi sikap seorang leader ke dalam empat kategori ketika melihat karyawan dan situasi yang berbeda-beda. Yang pertama kondisi emergency, pemimpin harus mengarahkan atau memerintah. Misalnya saja, terjadi kebakaran di sebuah tempat, pemimpin yang bersangkutan benar-benar harus memberikan instruksi secara jelas, tegas, bahkan cenderung otoriter, tidak ada usul atau bantahan. Dan sebaliknya anak buah pun harus mengerti kondisi sehingga si pemimpin bersikap demikian. Masa sih dalam situasi yang gawat seperti kebakaran masih ada perdebatan sengit untuk membiarkan kebakaran menjalar atau secepatnya mengatasi kebakaran. Sudah tentu target yang harus dilakukan adalah segera menghentikan kebakaran tadi.

Kedua melatih. Latihan diberikan kepada karyawan yang memiliki kemampuan sedang dan komitmen rendah. Sehingga dalam kurun waktu tertentu memiliki pengetahuan dan komitmen yang meningkat. Ketiga mendukung. Ini diberlakukan kepada karyawan yang kemampuan tinggi tapi komitmen tidak menentu. Dalam beberapa kasus pemimpin banyak melakukan proses latihan dan mendukung. Sehingga karyawan mendapatkan pengetahuan baru dan langsung dicoba. Sementara yang keempat adalah menugaskan atau mendelegasikan kerja. Ini diberikan kepada karyawan yang memiliki kemampuan tinggi dan komitmen yang tinggi pula. Karyawan jenis ini sudah memiliki kesadaran sendiri sekaligus kemampuan untuk mengemban tanggungjawab secara penuh.

Kalau polanya demikian, masih ragukah untuk menerapkan kepemimpinan dengan pendekatan kecerdasan emosi (EQ)? Mungkin perlu dicoba dulu, tapi sebelum dicoba, pemimpin harus memiliki bekal yang utuh tentang kecerdasan emosi, jangan hanya menerapkan sepotong-sepotong. Buku-buku Daniel Goleman yang berisi tentang EQ, Ary Ginanjar ESQ dapat menjadi rujukan bagaimana cara memimpin dengan kecerdasan emosi.

Strategic management


Pada dasarnya manajemen diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan perbuatan yang baik dan benar.

Manajemen diri juga menuju pada konsistensi dan keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan sehingga apa yang dipikirkan sama dan sejalan dengan apa yang diucapkan dan diperbuat. Integritas seperti inilah yang diharapkan akan timbul dalam diri para praktisi manajemen diri.
 
Sebelum bisa memiliki pikiran-ucapan-perbuatan baik, terlebih dahulu seseorang harus memiliki pemahaman dan pengertian yang benar.

Jadi urutan yang benar adalah :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan benar ==>perbuatan benar.

Akan tetapi walaupun punya pemahaman terhadap kebaikan dan ketidakbaikan, belum tentu pikiran seseorang mampu diarahkan terus-menerus terhadap kebaikan. Dan walaupun seandainya pikiran seseorang sudah didominasi oleh kebaikan, belum menjamin bahwa ucapannya selalu sejalan dengan pikiran baik ini. Demikian pula tidak ada garansi bahwa perbuatannya secara fisik merefleksikan sepenuhnya pikiran yang baik ini.

Sebagai contoh, apapun latar belakang, umur, jenis kelamin, pendidikan, suku dan lain sebagainya, umumnya kita setuju bahwa olah raga dengan frekuensi dan dosis yang tepat, dapat menjaga kebugaran, daya tahan dan kesehatan seseorang. Pemahaman ini menuntun pada pikiran yang baik bahwa olah raga penting bagi kesehatan.

Pemahaman dan pikiran tentang kebaikan olah raga ini lebih mudah sejalan dengan ucapan. Sewaktu menasihati orang lain, dengan mudah kita menjelaskan pentingnya berolah raga secara teratur. Akan tetapi sewaktu harus praktek langsung, banyak di antara kita akan memunculkan berbagai alasan untuk mendukung dan memberikan pembenaran mengapa diri kita sendiri jarang atau bahkan tidak sama sekali berolah raga. Mulai dari alasan sibuk bekerja, waktunya belum tepat, tidak ada sarana, dan lain-lain.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang yang tidak atau belum sukses padahal begitu banyak kiat, taktik, strategi, dan metode sukses diajarkan melalui buku, kaset, seminar dan lain-lain. Banyak di antara kita hafal di 'luar kepala' dan mampu dengan cepat menyebutkan persyaratan untuk bisa sukses, mulai dari berdisiplin tinggi, tepat waktu, punya integritas, jujur, fokus pada apa yang sedang dikerjakan, kerja sama team, bertanggung jawab, bekerja keras, tidak mudah putus asa, dan lain sebagainya.

Begitulah, banyak dari kita hanya bermain pada tataran pemahaman dan pikiran, atau paling jauh sampai level ucapan saja. Begitu harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari secara disiplin, kita memberikan banyak maaf kepada diri sendiri untuk menunda atau tidak melakukan berbagai kiat, taktik, strategi dan metode sukses tersebut.

Akhirnya sukses terlihat hanya menjadi hak orang lain dan bukan hak kita. Padahal kita sendirilah yang menentukan sukses tidaknya diri kita masing-masing karena setiap orang punya hak untuk sukses, seperti yang dikatakan oleh Bapak Andrie Wongso bahwa " Success is My Right " (sukses adalah hak saya).

Sebenarnya tanpa perlu menjalankan semua persyaratan sukses, masih terbuka lebar kesempatan meraih berbagai keberhasilan dalam hidup kita. Seringkali cukup dengan menjalankan secara disiplin dan konsisten beberapa poin saja di antaranya, maka kita akan menjadi insan-insan yang berbeda dan lebih baik dari mereka-mereka yang hanya berwacana di tataran pikiran dan ucapannya saja (OmDo = Omong Doang, NATO = No Action Talk Only, "Tong Kosong Nyaring Bunyinya").

Dari contoh-contoh di atas dapat diringkas sebagai berikut :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan benar ==> perbuatan salah.

Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran benar ==> ucapan salah  ==> perbuatan salah.

Tidak tertutup kemungkinan juga :

Pemahaman/pengertian benar ==> pikiran salah  ==> ucapan salah  ==> perbuatan salah.

Dan yang pasti terjadi jika pemahaman/pengertian seseorang tidak benar adalah :

Pemahaman/pengertian salah ==> pikiran salah ==> ucapan salah ==> perbuatan salah.

John C. Maxwell mengatakan bahwa pikiran berlanjut ke ucapan terus ke perbuatan. Jika rangkaian ini terus dilakukan dapat membentuk kebiasaan yang menghasilkan karakter seseorang dan akhirnya menentukan destiny (= nasib)-nya.

Marilah kita mulai menyelaraskan antara pikiran benar, ucapan benar dan perbuatan benar untuk membentuk kebiasaan benar dalam membangun karakter yang benar pula sehingga pada akhirnya kita bisa menuai 'hasil' yang baik dan benar pula dalam semua aspek kehidupan kita.

Prof. Dr. Akdon,M.pd  2011,strategic management,ALFABETA,BANDUNG

tips cara merawat motor matic

Merawat Motor Matic = Merawat Cewek

Pasti mendengar judulnya pada ketawa yah hahhahha. Hehhe tapi memamng bener kok.. coba kita simak ulasan dari saya ini. Motor matic merupakan motor yang paling sering dan senang untuk dirawat dan diperhatiin.. Nah sama kan sama cewek yang maunya diperhatiin.

Lalu Bagaimana cara ngasih perhatiannya.? Inni sedikit cara merawat motor matic cikiciwwww..,.,…..

begini caranya :
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan didalam mearawat motor matic:

1.Ganti oli mesin setiap 2000 Km


2.Ganti oli transmisi setiap 7500 Km

3.Disarankan untuk mengganti Vent Belt setiap 20.000 Km

4.Pada km 20.000 Selain mengganti vent beltnya disarankan juga untuk melakukan

pembersihan diruang transmisi tersebut.

5.Selalu menggunakan busi original disaat meganti busi yang sudah lama.

6.Terakhir selalu chek kondisi aki, karena kebanyakan motor matic meruapakan motor full DC yang dimana peran aki sangat berpengaruh dimotor matic.secara untuk tenaga dan kenyamanan dalam berkendaraa

7.ganti Oli shocbeker setiap 10.000 Km
Nah ittu tadi sedikit tentang cara merawat motor matic coba di praktekkan yyah hehehe.,…….